 |
|
|
 |
Bronchoscopy |

Punksi Pleura |

Lung exam |

Smoker |
|
 |
|
|
|
|  |  | |  | | | PERHIMPUNAN DOKTER PARU INDONESIA AWAL DAN PERKEMBANGANNYA
Halaman: 5/7
|
BAB
V
ORGANISASI DAN KONSOLIDASI ORGANISASI
|
|
| V.1 |
Pengurus Pusat Sementara IDPI |
|
PP
Sementara IDPI sesudah Konker I,
tidak merangkap lagi menjadi Pengurus IDPI Cabang Jakarta (lihat
Pembentukan Pengurus IDPI Cabang Jakarta dengan SK.
No.103/IDPI/1976). |
|
|
|
| V.2 |
Pertumbuhan Cabang |
|
Sesudah
Konker I, IDPI melebarkan
sayapnya dengan dibentuknya Cabang baru, yaitu Cabang Sumatera
Tengah Selatan (meliputi daerah Riau, Palembang dan Bangka)
sedangkan Cabang Jawa Timur membubarkan diri menjadi Cabang Surabaya
dan cabang Malang. Sesuai dengan AD dan ART IDPI 5 orang dokter paru
dalam 1 propinsi atau gabungan beberapa propinsi dapat membentuk
Cabang IDPI. Namun sayang, dokter-dokter paru di daerah Jawa Barat
meskipun sudah berjumlah 7 orang, pada waktu itu belum bersedia
membentuk Cabang sedangkan Jawa Tengah (Semarang) ingin membentuk
Cabang tetapi jumlah dokter parunya masih kurang dari 5 orang |
|
|
|
| V.3 |
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga |
|
Pada
rapat mendirikan IDPI tanggal 8
September 1973, AD dan ART yang dimajukan pada waktu itu dianggap
sah, sampai di pastikan nanti oleh Kongres. Pada Konker I diadakan
perbaikan dan perubahan, tetapi tidak banyak yang bersifat
prinsipiil. Di dalam melaksanakan tugasnya PP Sementara IDPI tidak
dapat menerima pendapat dari salah satu Cabang, yang menganggap
bahwa AD dan ART dan produk Konker lainnya belum dapat dipergunakan
sebagai pegangan yang menentukan (definitif), karena belum disahkan
oleh Kongres. Perhimpunan harus berjalan atas sesuatu dasar, biarpun
dasar itu masih bersifat sementara. Dan Konker dimaksudkan untuk
memberikan pegangan pada PP Sementara IDPI dalam melaksanakan
tugasnya. Karena itu PP Sementara IDPI menganggap semua
tindakan-tindakan yang dilakukannya selama ini sebagai sah. |
|
|
|
| V.4 |
Pendidikan |
|
Pada
Muktamar XIV - IDI di Malang
ditetapkan, bahwa setiap Perkumpulan Dokter Ahli harus mempunyai
Dewan Penilai Keahlian (DPK). Sebagai Ketua DPK-IDPI yang pertama
ditetapkan Dr Afloes dengan anggota-anggotanya Dr J Soegondho dan Dr
A Wiriadinata. Sebagai langkah pertama DPK menentukan syarat-syarat
minimum yang harus dipenuhi untuk dapat dididik dan diakui sebagai
Dokter Ahli Paru, diantaranya tentang Kurikulum Pendidikan Ahli
Penyakit Paru sbb: |
|
Lama
pendidikan : 36 bulan |
|
Terbagi
dalam pendidikan di Bagian |
|
| a |
Penyakit
Dalam selama |
: |
6 bulan |
| b |
Radiologi
selama |
: |
6 bulan |
| c |
Penyakit
Paru selama |
: |
24
bulan |
|
|
|
|
|
|
|
ad. a. |
Selama bekerja di
Bagian Penyakit Dalam hendaknya diperhatikan terutama
penyakit-penyakit yang : |
|
|
| 1 |
Ada
hubungannya dengan penyakit paru |
| 2 |
Dapat
mempengaruhi perkembangan penyakit paru |
| 3 |
Dapat
meluas ke arah paru |
|
|
|
Sebagai contoh
disebutkan : |
|
|
| - |
Diabetes
Mellitus |
| - |
Abses
amoeba dari
hepar |
| - |
Cor
pulmonale, dsb |
|
|
ad. b. |
Pendidikan di
Bagian Radiologi ditekankan pada : |
|
|
| 1 |
Teknik
X-Ray |
| 2 |
Memproses
Film X-Ray
(teknik kamar gelap) |
| 3 |
Perlindungan
terhadap
radiasi |
| 4 |
Bronkografi
dan
tomografi |
| 5 |
Dan
lain-lain yang
berhubungan dengan toraks |
|
|
ad. c. |
Pekerjaan di
bagian Paru dibagi dalam perkerjaan : |
|
|
| 1. |
Klinik |
|
Selama
bekerja di
Klinik hendaknya diperdalam pengetahuan tentang : |
|
| 1.1. |
Segmental
anatomy dari "bronchial tree" dan
paru |
| 1.2. |
Faal paru |
|
Sedapat
mungkin dikerjakan sendiri. Kalau belum
mempunyai fasilitas, setidak-tidaknya
menilai dan menafsirkan angka-angka yang
diperoleh |
| 1.3. |
Selama bekerja
di bangsal dilakukan : |
|
| 1.3.1. |
Penelitian
perkembangan dan pengobatan penyakit
TB paru. Dalam hal ini harus
dipelajari epidemiologinya |
| 1.3.2. |
Penelitian
perkembangan dan pengobatan
penyakit-penyakit a-spesifik dari
bidang, "bronchial tree"
dan parenkim paru. |
| 1.3.3. |
Menentukan
dan mempelajari indikasi-indikasi
pengobatan operatif. |
| 1.3.4. |
Mengerjakan
tindakan-tindakan dalam keadaan
darurat, seperti pada : |
|
| - |
Pneumotoraks
ventil |
| - |
Hemoptisis
masif |
| - |
Gangguan
ventilasi, dll |
|
| 1.3.5. |
Sedapatnya
juga dicurahkan perhatian terhadap
tumor paru |
|
|
|
|
|
|
| 2. |
Pekerjaan
di
Poliklinik terdiri atas : |
|
| 2.1. |
Meneliti
dan mengobati penderita-penderita paru
secara berobat jalan |
| 2.2. |
Melayani
permintaan konsul dari sejawat-sejawat yang
lain. |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Selama
dalam pendidikan hendaknya
beberapa kali mengajukan "case-presentation" dan referat.
Dan pada akhir pendidikan mengajukan karangan ilmiah mengenai salah
satu topik yang pernah dihadapi pada waktu pendidikan. Pada
waktu-waktu tertentu kurikulum ini akan ditinjau kembali. Pada
Konperensi Kerja-I IDPI di Jakarta, Cabang Jawa Timur mengusulkan,
Sarana diagnostik seharusnya terdiri atas : |
|
| 1 |
Alat rontgen |
| 2 |
Alat Pneumotoraks |
| 3 |
Alat Bronkoskopi |
| 4 |
Alat Bronkografi |
| 5 |
Alat Biopsi paru
dan pleura |
| 6 |
Laboratorium
untuk pemeriksaan : |
|
| - |
pH
Acid-base balance (bloodgas analysis) dan elektrolit |
| - |
Bakteriologi |
| - |
Fungi |
| - |
Virus |
|
| 7 |
Alat EKG |
| 8 |
Alat Faal Paru |
|
|
dan
usulan ini diterima oleh Konker
tersebut |
|
Halaman Sebelumnya (4/7) - Halaman Berikutnya (6/7) 
| |  | |  |
|  | |  |