 |
|
|
 |
Bronchoscopy |

Punksi Pleura |

Lung exam |

Smoker |
|
 |
|
|
|
|  |  | |  | | | PERHIMPUNAN DOKTER PARU INDONESIA AWAL DAN PERKEMBANGANNYA
Halaman: 6/7
BAB
VI
PERKEMBANGAN SETIAP PERIODE |
|
|
| VI.1. |
Perkembangan
IDPI Pusat
Setelah Kongres-I |
|
Pada tanggal 19
Nopember 1977 untuk pertama kalinya bertempat di RS Persahabatan
Jakarta diselenggarakan rapat anggota IDPI Cabang Jakarta dengan
acara Pemilihan Pengurus IDPI Cabang Jakarta periode 1977 - 1980 |
|
Suatu masalah muncul
pada rapat tersebut, ketika seorang anggota senior menghimbau
kepada Pengurus Pusat IDPI untuk memberikan sebagaian dana
kelebihan pelaksanaan Kongres I kepada Pengurus IDPI Cabang
Jakarta, sebagai modal bagi Cabang dan sebagai imbalan atas jerih
payah dan kerja keras Cabang Jakarta menyelenggarakan Kongres I
tersebut dengan sukses. Pada waktu itu Ketua Umum Pengurus Pusat
(Dr Rasmin Rasjid) sebagai anggota IDPI Cabang Jakarta, juga
hadir. Dijawab oleh Dr Rasmin Rasjid, hal itu sulit diterima oleh
Pengurus Pusat, karena memang dalam Anggaran Rumah Tangga IDPI
yang baru disahkan dalam Kongres I, tidak disebutkan mengenai
pembagian dana hasil Panitia Kongres maupun Panitia Konker, yang
berarti semua dana berupa uang dan barang hasil Panitia Kongres
maupun Panitia Konker menjadi milik Pengurus Pusat. |
|
Kalau dilihat peristiwa
ini, memang kesalahan ini terletak kepada utusan-utusan Cabang
yang menghadiri Kongres I, karena pada waktu itu mereka menyetujui
saja isi AD dan ART IDPI. Tetapi mungkin juga mereka belum
berpengalaman dan para anggota yang bersidang dalam Komisi AD dan
ART dalam Kongres I itu tidak menyadari hal-hal yang
"sensitif" ini, yaitu perihal kekayaan Panitia Kongres /
Panitia Konker seharusnya menjadi kekayaan bersama dari Pengurus
Pusat dan Pengurus Cabang dimana Kongres / Konker diadakan. Hal
yang tidak menyenangkan ini, kemudian dengan lapang dada dapat
diselesaikan bersama Pengurus Pusat dan Pengurus Cabang Jakarta
melalui usulan perubahan ART pada Kongres II di Surabaya, yang
berhasil dengan ditetapkannya Peraturan Anggaran Rumah Tangga
Pasal 8 Ayat 4 dan Pasal 17 Ayat 4 yang berbunyi : Kekayaan
Panitia Kongres / Panitia Konker dalam bentuk uang dan barang,
menjadi kekayaan bersama dari Pengurus Pusat dan Pengurus Cabang
dimana Kongres / Konker diadakan, dalam perbandingan 40% untuk
Pengurus Pusat dan 60% untuk Pengurus Cabang yang bersangkutan,
selanjutnya dalam perubahan ART berikutnya pembagian menjadi 30%
untuk Pusat dan 70% untuk Cabang. Pada tanggal 30 November 1978,
Ketua IDPI Cabang Jakarta, Dr J Soegondho meninggal dunia dalam
usia 61 tahun dan penggantinya ditunjuk Dr Hadiarto Mangunnegoro.
Kegiatan organisasi yang penting selanjutnya ialah penyelenggaraan
Konker II - IDPI pada tanggal 20 - 21 Juni 1979 di Medan dan
Kongres Nasional II - IDPI pada tanggal 18 - 20 Juni 1980 di
Surabaya. |
|
| VI.2. |
Kongres Nasional II - IDPI |
|
Pada Kongres II ini Dr
Hadiarto Mangunnegoro terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat
IDPI masa bakti 1980 - 1983.
Pada masa bakti ini dilaporkan kegiatannya sbb: |
|
| A |
Bidang
Organisasi |
|
| 1 |
Menyusun
AD / ART - IDPI yang telah diputuskan dalam
Kongres Nasional II - IDPI |
| 2 |
Menyusun
Pedoman Kerja PP - IDPI periode 1980 - 1983 |
| 3 |
Keanggotaan |
|
| 3.1. |
Dengan
adanya peraturan Mendikbud mengenai
Pendidikan Pascasarjana menjadi lebih
jelas, hanya dokter paru yang didiik di
Pusat Pendidikan Pascasarjana yaitu FK-UI,
FK-UNAIR dan FK-USU yang berhak menjadi
anggota biasa IDPI, sedangkan anggota muda
adalah mereka yang masih sedang dalam
pendidikan pada Pusat Pendidikan diatas,
sedikitnya 1 tahun |
| 3.2. |
Sebagai
akibat peraturan ini, maka keputusan
Kongres Nasional II - IDPI mengenai
pendidikan tambahan bagi dokter BP4 untuk
diakui sebagai dokter paru tidak dapat
dilaksanakan |
| 3.3. |
Kepengurusan
IDPI baik Pusat maupun Cabang, hanya dapat
diduduki oleh anggota biasa telah dipenuhi
(ditertibkan) |
|
|
|
|
| B |
Bidang
Pendidikan |
|
| 1 |
Pada
saat itu hanya ada 3 Pusat-Pusat Pendidikan Dokter
Ahli (Kategori I) di Indonesia :
- FK-UI di Jakarta
- FK-UNAIR di Surabaya
- FK-USU di Medan
ditambah dengan 1 Pusat Pendidikan (Kategori II)
yaitu FK-UNAND di Padang |
| 2 |
Buku
Katalog Program Studi perlu dinilai kembali apakah
pelaksanaannya sudah sesuai pada setiap Pusat
Pendidikan |
| 3 |
Pendidikan
tambahan bagi dokter BP4 tidak dapat dilaksanakan
lagi |
| 4 |
Paket-paket
Pendidikan
Kegiatan pendidikan dan kursus yang dapat
dilaksanakan antara lain : |
|
| 4.1. |
Penataran
TB bagi dokter lulusan FK-UI tahun 1982
dan 1983 di Jakarta |
| 4.2. |
Kursus
Asma di Surabaya tahun 1983 |
| 4.3. |
Penataran
TB untuk dokter umum baru yang akan
bertugas ke daerah, tahun 1983 |
| 4.4. |
Kursus
Fluoroskopi untuk dokter BP-4 |
| 4.5. |
Penataran
dokter tentang TB bekerjasama dengan PPTI
di Jakarta |
|
| 5 |
Pendidikan
Prasarjana (under graduate) |
|
| 5.1. |
Mengalami
kemunduran, akibat tidak dicantumkan paket
ilmu penyakit paru tersendiri dalam
Kurikulum Inti Fakultas Kedokteran Negeri |
| 5.2. |
Kedudukan
paru sangat dirugikan oleh CMS (Consortium
of Medical Science) karena tampaknya
didominasi oleh Bagian lain dan tidak ada
yang membantu paru |
| 5.3. |
Strategi
yang dilakukan, mempertahankan bagian yang
sudah ada, mengusahakan secara teratur
agar paru diberi peran yang lebih besar. |
|
|
| C |
Bidang
Penelitian dan Ilmiah |
|
Peningkatan
program ilmiah, dipandang cara terbaik bagi para dokter
paru dalam kedudukan terhormat baik di masyarakat umumnya
dan masyarakat kedokteran khususnya. Pelaksanaan kegiatan
ilmiah adalah sbb: |
|
| 1 |
Menganjurkan
anggota gemar menulis dalam majalah ilmiah, bila
perlu dengan insentif |
| 2 |
Mengusahakan
bantuan dana riset dengan mencarikan sponsorship |
| 3 |
Kegiatan
Ilmiah |
|
| 3.1. |
Simposium
yang disusul dengan tindakan nyata |
| 3.2. |
Seminar,
Diskusi Panel |
| 3.3. |
Malam
Klinik oleh tiap-tiap Cabang |
| 3.4. |
Tulisan-tulisan
Ilmiah Populer |
|
| 4 |
Pembentukan
Pusat-pusat Studi dan Konsultasi (PUSKO) Ilmiah,
terdiri dari : |
|
| 4.1. |
Pusko
Tuberkulosis |
|
1.1.
Klinik : Jakarta, Surabaya
1.2. Lapangan : Malang, Yogyakarta |
| 4.2. |
Pusko
Penyakit Paru Obstruktif Menahun :
Jakarta, Medan dan Surabaya |
| 4.3. |
Pusko
Penyakit Alergi / Imunologi Paru :
Jakarta, Surabaya |
| 4.4. |
Pusko
Kanker Paru : Jakarta, Surabaya |
| 4.5. |
Pusko
Penyakit Paru Kerja : Surabaya |
| 4.6. |
Pusko
Faal Paru, Fisioterapi dan Rehabilitasi :
Jakarta, Medan dan Surabaya |
| 4.7. |
Pusko
Hubungan Rokok dan Paru : Jakarta, Medan
dan Surabaya |
|
|
|
|
|
|
| D |
Hubungan IDPI
dengan Lembaga-Lembaga Pemerintah, Swasta di Dalam dan
Luar Negeri |
|
| 1 |
Hubungan
IDPI dengan Departemen Kesehatan |
|
| 1.1. |
Dalam
usaha penempatan dokter paru di lingkungan
Departemen Kesehatan mengusulkan kepada
Menteri Kesehatan : |
|
| 1.1.1. |
Peranan
dokter paru di dalam sistim
rujukan |
| 1.1.2. |
Membentuk
Unit Pelaksana Fungsional Paru
tersendiri di tiap-tiap RSU tipe A
dan B, agar dapat memanfaatkan
tenaga dokter spesialis paru,
secara lebih tepat guna dan
berhasil guna |
| 1.1.3. |
Konsep
organisasi dan tatalaksana UPF
Paru di RSU tipe A dan B |
|
Menanggapi
usul diatas Dirjen Yan Kes
mengeluarkan Surat Instruksi
kepada Direktur RSU tipe A dan B
agar segera membentuk UPF Paru dan
UPF Jantung. Namun sayangnya
pelaksanaannya tidak dapat
dilakukan, oelh adanya hal-hal
diluar kekuasaan IDPI, tergantung
dari kesediaan Direktur RSU yang
bersangkutan. |
|
| 1.2. |
Perihal
penempatan Dokter Paru pada saat itu,
menurut keterangan Kepala Biro Personalia
Departemen Kesehatan adalah sbb : |
|
| 1.2.1. |
Penempatan
dokter paru adalah bebas menurut
permintaan setempat |
| 1.2.2. |
Belum
ada program penempatan dari
Departemen Kesehatan |
|
|
Perihal
pengurusan SID Spesialis di Biro
Personalia berjalan lancar |
| 1.3. |
Oleh
Dirjen P3M-Depkes, IDPI diminta untuk
menempatkan wakilnya dalam Kelompok Kerja
Rencana Induk Pemberantasan TB Naisonal |
|
| 2 |
Hubungan
IDPI dengan Depdikbud |
|
| 2.1. |
Hubungan
IDPI dengan Depdikbud sangat kurang,
terutama yang menyangkut Pendidikan
Prasarjana, terutama hubungan dengan CMS,
sehingga mata pelajaran Ilmu Penyakit Paru
bukan sebagai mata pelajaran tersendiri
dalam kurikulum inti FKN. Dalam bidang
Pascasarjana hingga saat ini tidak ada
masalah |
| 2.2. |
Pengakuan
Brevet Spesialis Paru berhasil, berkat
kegigihan Pengurus Pusat IDPI yang
memperjuangkan kepada Tim Ditjen Dikti
yang diketuai oleh Prof Dr Asri Rasad agar
beberapa dokter senior anggota IDPI yang
umumnya sudah lama bekerja di BP4, namun
mereka sudah terdaftar sebagai dokter
spesialis paru di MDA-IDI, untuk diakui
sederajat sebagai dokter spesialis paru
oleh Depdikbud. Dan ini hanya berlaku
"eenmalig" pada beberapa teman
sejawat tersebut, sesudah itu tidak ada
lagi pengakuan semacam itu |
|
|
|
| 3 |
Hubungan
IDPI dengan IDI
Berjalan baik, mengingat IDPI merupakan salah satu
anggota Majelis Dokter Ahli, sekarang MDSp-IDI |
| 4 |
Hubungan
IDPI dengan PPTI |
|
4.1. Membantu mengisi karangan
ilmiah dalam Majalah
PPTI
4.2. Beberapa anggota IDPI menjadi Pengurus
PPTI di Pusat, maupun di Cabang |
| 5 |
Hubungan
Luar Negeri |
|
5.1. Menjajaki menjadi anggota
Asia Pacific Region dari
ACCP |
|
|
|
|
|
| VI.3. |
Kongres Nasional
III -
IDPI |
|
Konker Nasional III
- IDPI dilaksanakan di Yogyakarta, pada tanggal 29 - 30 Juni
1981. Sedangkan Kongres Nasional III - IDPI dilaksanakan di
Medan, pada tanggal 21 - 23 Desember 1983 dan telah memilih
kembali Dr Hadiarto Mangunnegoro sebagai Ketua Umum Pengurus
Pusat IDPI periode 1983 - 1986 |
|
Kegiatannya adalah
: |
|
| 1 |
Bidang
Organisasi |
|
| 1.1. |
Keanggotaan
: |
|
| 1.1.1. |
Penertiban
registrasi anggota, penyelesaian KTA -
IDPI |
| 1.1.2. |
Pembahasan
penerimaan Anggota Luar Biasa |
|
| 1.2. |
Sekretariat |
|
Surat
menyurat sudah berjalan lancar, penyeragaman
telah dilaksanakan pada kop surat, amplop,
stempel Pengurus Pusat dan Cabang |
|
| 2 |
Hubungan
Luar Negeri |
|
| 2.1. |
Belum
ada tambahan anggota baru yang mengajukan
permohonan menjadi anggota ACCP. dari
Indonesia baru ada 5 orang, menyusul 1 orang
dari Bandung |
| 2.2. |
Telah
terbentuk Asia Pacific Society of Respirology
(APSR) di Tokyo dalam tahun 1986 |
|
| 3 |
Departemen
Kesehatan |
|
Belum ada
follow-up kejelasan mengenai usul-usul IDPI dalam
rancangan standarisasi dan klarifikasi Rumah Sakit
Umum di Indonesia, dimana IDPI mengusulkan adanya Unit
Paru di rumah sakit-rumah sakit tipe A, B dan C di
seluruh Indonesia |
| 4 |
Pendidikan |
|
| 4.1. |
Board
of Study |
|
| 4.1.1. |
Mengukuhkan
Board of Study, sebagai badan resmi
penghubung Ikatan Dokter Spesialis dan
Depdikbud melalui CHS |
| 4.1.2. |
Mempertegas
fungsi Board of Study dalam
kegiatannya dengan : |
|
| - |
Pendidikan
dokter spesialis (Pembaharuan
Katalog, Kurikulum Pendidikan,
National Board of Examination) |
| - |
Mempertegas
jalur adaptasi dokter
spesialis lulusan luar negeri |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Masalah yang
berhubungan dengan Pendidikan : |
|
| a |
Belum ada
kepastian keharusan adanya Bagian Paru di setiap FK
Negeri, menyulitkan peranan Dokter Paru dalam kegiatan
Pendidikan |
| b |
FK-UNS
berhasil didirikan Bagian Pulmonologi, tetapi masih
dipersoalkan eksistensinya |
| c |
Adanya
pendidikan tidak resmi sub-spesialis oleh Penyakit
Dalam, yang sertifikatnya dikeluarkan oleh PAPDI, akan
menjadi masalah dengan timbulnya spesialisasi ganda. |
| d |
Perlu
direncanakan dengan segera usaha-usaha meningkatkan
ilmu dan keterampilan dokter spesialis paru yang sudah
ada secara berkesinambungan, dengan : |
|
| 1 |
Kursus-kursus
upgrading |
| 2 |
Penataran-penataran |
| 3 |
Keharusan
membuat publikasi |
|
| e |
Perubahan
Katalog Program Studi Pulmonologi |
|
| 1 |
Banyak
bagian yang harus dihilangkan dan ditambahkan,
agar tidak terlalu banyak melibatkan bagian
lain |
| 2 |
Persyaratan
dalam Katalog yang sekarang tidak dipenuhi
oleh pusat pendidikan |
|
|
|
|
|
|
|
| VI.4. |
Dalam Kongres
Nasional
IV-IDPI |
|
Tanggal 10-12 November 1986 di Yogyakarta telah
terpilih Dr
Hood Alsagaff sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat IDPI periode 1986 -
1989. Tugas utama Pengurus Pusat IDPI periode ini ialah melaksanakan
keputusan Kongres Nasional IV - IDPI dan kegiatan-kegiatan
organisasi lainnya |
|
Kegiatannya adalah : |
|
| A. |
Organisasi |
|
| 1 |
Memantapkan
organisasi dengan cara : |
|
| 1.1. |
Melakukan
reinventarisasi anggota, membuat kartu
anggota |
| 1.2. |
Hubungan
timbal balik dengan cabang-cabang |
| 1.3. |
Mengkoordinasi
pertemuan-pertemuan ilmiah |
| 1.4. |
Membantu
pengurusan surat ijin dokter spesialis
anggota IDPI |
|
|
|
| 2 |
Hubungan
IDPI dengan instansi dan lembaga lain : |
|
| 2.1. |
Departemen
Kesehatan |
|
| - |
Memenuhi
undangan / permintaan DepKes untuk
turut melakukan Program Penempatan
Dokter Ahli diluar 4 besar, tetapi
belum ada follow-upnya yang tuntas |
| - |
Memenuhi
undangan / permintaan pengisian
pulmonologi di rumah sakit kelas C1,
C2, B1, B2 dan B3 |
|
|
|
| 2.2. |
I
D I |
|
Hubungan
IDI dengan IDPI tetap baik, beberapa kali
IDPI mendapat undangan rapat dengan IDI |
|
| 2.2.1. |
Acara
Muktamar IDI di Bandung tanggal 9
-11 Desember 1985, yang juga
dihadiri oleh utusan IDPI
membicarakan antara lain : |
|
| - |
Adaptasi
dokter lulusan luar negeri |
| - |
Ujian
saringan kepada dokter umum
yang akan melakukan
spesialisasi |
| - |
Penempatan
dan penyebaran dokter
spesialis |
|
|
|
|
| 2.3. |
Depdikbud |
|
PDA-PDA
termasuk IDPI tidak pernah lagi dilibatkan
dalam kegiatan PDS. Hingga saat itu Board of
Study belum berfungsi. Beberapa masalah
timbul di Fakultas Kedokteran yang
berhubungan dengan pendidikan spesialis
(FK-UNAIR, FK-UGM, FK-UNS, FK-UI, FK-UNAND) |
| 2.4. |
PPTI |
|
Walaupun
secara organisatoris tidak ada hubungan
langsung, beberapa anggota IDPI menjadi
anggota Pengurus PPTI, di Pusat maupun
wilayah |
| 2.5. |
Hubungan
Luar Negeri |
|
Tidak
ada hubungan langsung IDPI dengan organisasi
sejenis di luar negeri |
|
| 2.5.1. |
Atas
inisiatif Japan Society of Chest
Disease telah dilaksanakan rapat
pendahuluan Pembentukan Perkumpulan
baru di bidang pulmonologi untuk
kawasan Asia Pasifik sebagai
counterpart American Thoracic
Society. Pada tanggal 20 - 21
Agustus 1985 di Tokyo diadakan
pertemuan yang dihadiri oleh
wakil-wakil Jepang, USA (ATS), Korea
Selatan, Filipina, Thailand,
Indonesia dan Australia sebagai
"Negara Inti". Telah
disepakati perkumpulan tersebut
diberi nama Asia Pacific Society of
Pulmonologist. Kongres pertama akan
diselenggarakan di Jepang pada tahun
1987 |
| 2.5.2. |
ACCP |
|
Pada
tanggal 28 Agustus 1985 di Sydney
diadakan World Congress on Disease
of the Chest. Dalam kongres tersebut
Dr Hadiarto Mangunnegoro ditunjuk
menjadi Governor ACCP di Indonesia,
tugasnya antara lain mengurus
calon-calon anggota, mengadakan
kegiatan ilmiah yang dikoordinasi
oleh IDPI |
|
| 2.6. |
Hubungan
dengan lembaga lain
LIPI, YKI |
| 2.7. |
Masalah-masalah
yang perlu dibicarakan |
|
| 2.7.1. |
Organisasi |
|
| - |
Menentukan
penerimaan sebagai anggota
kehormatan |
| - |
Masalah
cabang Jateng yang hanya
mempunyai 4 anggota |
| - |
Jumlah
anggota Cabang SUmTengSel
cukup untuk dipecah, menjadi
2 cabang |
| - |
Anggota
yang berdomisili jauh dari
Cabangnya, perlu bergabung
dengan Cabang tempat
berdomisili atau dengan
Cabang yang terdekat |
|
|
|
| 2.7.2. |
Pendidikan |
|
| - |
Masalah
paling rawan ialah
pendidikan prasarjana di
Bagian Paru
Kesulitan menempatkan
eksistensi Bagian
Pulmonologi di FK-FK
merupakan hambatan terbesar
oleh karena : |
|
| • |
Kurikulum
inti |
| • |
SK
Dirjen Dikti tentang
organisasi FK |
| • |
PP
V |
|
| - |
Kurikulum
PDS Pulmonologi belum
seragam di 3 FK, memerlukan
revisi buku katalog P3S
Pulmonologi |
| - |
Pendidikan
Pulmonologi Berkesinambungan
baru terbatas dalam
pengadaan Simposium di
Cabang-cabang tertentu |
|
| 2.7.3. |
Pengabdian
Masyarakat |
|
| - |
Belum
terlihat kegiatan pengabdian
masyarakat yang jelas dari
IDPI kecuali beberapa
inisiatif untuk mengadakan
simposium untuk awam,
mendirikan klub asma |
| - |
Perlu
dipikirkan bentuk pengabdian
masyarakat yang konkrit |
|
| 2.7.4. |
Kegiatan
Ilmiah |
|
| - |
Belum
ada buku pegangan untuk
keseragaman istilah-istilah
diagnostik dan terapi pada
beberapa penyakit yang
penting misalnya TB, Asma,
Kanker, PPOM, dll |
| - |
Kegiatan
ilmiah seperti simposium
belum merata diantara
cabang-cabang. |
|
| 2.7.5. |
Luar
Negeri |
|
| - |
Ada
pertanyaan masih perlukah
pembentukan Pulmonologi
Asean ? |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| B. |
Dewan Penilai
Keahlian dan Pendidikan |
|
| 1. |
Keanggotaan
DPK disesuaikan dengan jabatan kepala bagian dari
tiap-tiap Pusat Pendidikan Pulmonologi |
|
| • |
FK-UI |
: |
Prof
Dr Rasmin Rasjid (anggota merangkap Ketua) |
| • |
FK-UNAIR |
: |
Dr
Djoko Iman Santoso (anggota) |
| • |
FK-USU |
: |
Dr
HMM Tarigan (anggota) |
|
|
Kedudukan
yang sangat terpencar dari ketiga anggota ini
menyebabkan pada waktu itu belum pernah diadakan
perembukan dalam DPK |
| 2. |
Pekerjaan
DPK pada umumnya hanya menyelesaikan pendaftaran
sebagai Dokter Paru pada MDA-IDI. Selama periode
Januari 1984 - 15 Oktober 1985 sudag didaftarkan
oleh DK sebanyak 16 Dokter Paru pada MDA-IDI |
| 3. |
Karena
DPK juga diminta mengurusi pendidikan, maka mungkin
nama yang baik adalah Dewan Penilai Keahlian dan
Pendidikan (DPK dan Pendidikan) |
| 4. |
PP-IDPI
pernah minta DPK menyelesaikan protes IKARI pada
PB-IDI mengenai seorang dokter paru di Yogya yang
dituduh melakukan praktek radiologi, bulan Oktober
1984. Persoalan ini dapat diselesaikan dengan baik.
Untuk menghindari kejadian semacam ini di belakang
hari, DPK ingin menghimbau pada semua anggota IDPI,
agar setiap anggota IDPI selalu berhati-hati dalam
tindak tanduknya untuk menghindarkan kesan sebagai
tidak etis, seolah-olah melakukan praktek dalam
bidang keahlian lain |
| 5. |
Pusat
pendidikan PPDS Pulmonologi |
|
| 5.1. |
Sejak
1 tahun yang lalu diusahakan untuk
meningkatkan PPDS Pulmonologi FK-UNAND dari
kategori 2 menjadi kategori 1. Untuk itu
Bagian Pulmonologi FK-UI bersedia untuk
menjadi "Bapak Angkat" dalam
peningkatan tsb. Dan untuk itu Bagian
Pulmonologi FK-UNAND diminta untuk
mengundang Bagian Pulmonologi FK-UI meninjau
ke FK-UNAND. Sangat disayangkan, bahwa
samapi pada waktu itu Bagian Pulmonologi
FK-UNAND tidak mengeluarkan undangan itu.
Apa sebabnya tidak mengundang itu, tidak
dapat di laporkan. Sedangkan sebetulnya kita
harus berkejaran dengan waktu dalam usaha
peningkatan ini. |
| 5.2. |
Dalam
pembicaraan langsung dengan Dekan FK-UNS,
Pulmonologi merupakan bagian tersendiri.
Sekarang tinggal usaha dan kegiatan dari
staf Pulmonologi FK-UNS untuk meningkatkan
diri dalam pendidikan S1 dan S2 |
| 5.3. |
Pusat-pusat
pendidikan yang ada sekarang ini sebetulnya
mampu meningkatkan penerimaan calon. Akan
tetapi peningkatan ini hendaknya sejalan
dengan penempatannya. Ternyata Depkes RI
menyatakan Pulmonologi pada waktu itu masih
belum masuk program. Dengan meningkatkan
penerimaan calon, dan penempatan yang tidak
masuk program, dapat terjadi penumpukan
dokter paru di kota-kota Pusat Pendidikan.
Hal ini dapat dianggap sebagai usaha yang
tidak efektif dan tidak efisien, serta dapat
memberikan dampak buruk antara sesama dokter
paru. |
|
| 6. |
PP 5
Tahun 1980 |
|
Pengurus
Pusat IDPI sudah memperjuangkan kehadiran
Pulmonologi sebagai Laboratorium di semua
Pusat-pusat Pendidikan, baik pendidikan S2 maupun
pendidikan S1, dengan mendatangi Direktur Jenderal
Pendidikan Tinggi (pada waktu itu Prof DR Doddy
Tisna Amidjaja) di kantornya pada tanggal 9 April
1984. yang menemui beliau pada waktu itu adalah :
Ketua Umum, Sekretaris Umum dan Ketua DPK. Dirjen
memperlihatkan pengertian beliau akan masalah yang
diajukan, menjanjikan akan membicarakan lebih
lanjut, dengan CHS dan Mendikbud. Sangat
disayangkan, sampai beliau berhenti dan ditukar oleh
Prof Dr SOekadji, IDPI tidak mendapatkan keputusan
konkrit menyangkut persoalan itu. Rupanya masih
sulit juga untuk menyampaikan sesuatu positif, dan
lebih baik membiarkannya mengambang. FK-UI
membuktikan, bahwa perjuangan mendapatkan
Laboratorium untuk Pulmonologi dapat diperjuangkan
dari bawah. FK-UI mendapatkan Laboratorium
Pulmonologi atas dasar perjuangan yang gigih,
dilakukan oleh seluruh staf Bagian Pulmonologi FK-UI
dalam bulan-bulan akhir tahun 1982. Dan akhirnya
FK-UI sendirilah yang mengambil keputusan, bahwa
untuk FK-UI Laboratorium Pulmonologi ada dan suatu
kenyataan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Untuk
mendapatkan Laboratorium Pulmonologi di semua Pusat
Pendidikan Dokter dan Dokter Spesialis (S1 dan S2)
pertama-tama merupakan kegiatan Bagian Pulmonologi
sendiri. IDPI hanya dapat bertindak sebagai
pelengkap. |
|
|
|
| C. |
Dewan Penelitian
dan Ilmiah |
|
|
|
| 1. |
Program
Pusko Ilmiah |
|
Apabila
diteliti kembali keputusan Kongres III-IDPI di
Medan, ternyata bahwa butir 1, 2 dan 3 adalah
penjabaran program Pusko-Pusko Ilmiah IDPI, yang
seharusnya dijalankan oleh Pusko-Pusko di
Cabang-Cabang. Pengurus Pusat dalam hal ini
mengkoordinir kegiatan-kegiatan tersebut, seperti
pada acara Pertemuan Ilmiah Tahunan I di Jakarta.
Dengan demikian dicapai pengertian, bahwa
tugas-tugas yang dibebankan oleh Kongres
dilaksanakan oleh kita semua sebagai IDPI secara
keseluruhan |
|
|
|
Penyebaran
Ilmu Penyakit Paru |
|
Dengan
pengertian yang sama dengan diatas, dapat dilaporkan
bahwa dari 9 topik yang perlu disebarluaskan, baru
kira-kira 65% yang telah dilaksanakan, dengan
perincian sbb: |
|
| • |
TB
Paru |
: |
dalam
Pertemuan Ilmiah Tahunan I, oleh Pengurus
Pusat |
| • |
Kanker
Paru |
: |
oleh
IDPI Cabang Jakarta |
| • |
PPOM |
:
|
Simposium
"Bronkitis Kronik II" oleh IDPI
Cabang Jakarta |
| • |
Alergi
/ Asma |
: |
Simposium
"Masalah Asma Dalam Keluarga" oleh
IDPI Cabang Jakarta |
| • |
Paru
Kerja |
: |
Simposium
"Paru Kerja" oleh IDPI Cabang
Surabaya |
| • |
Gawat
Paru |
: |
"Course
on Respiratory Management" oleh IDPI
Cabang Jakarta |
|
|
Hasil-hasil
dan kesimpulan Pertemuan Ilmiah Tahunan yang
seharusnya dibukukan belum selesai dikerjakan, masih
dalam proses editing dari rekanan lisan ke bentuk
tertulis. SImposium "Masalah Asma Dalam
Keluarga" yang ditujukan kepada masyarakat umum
ternyata mendapat sambutan baik dari masyarakat di
Jakarta, terbukti dari terbentuknya "Klub Asma
Indonesia NAPAS SEGAR" yang sampai sekarang
masih aktif menyelenggarakan pertemuan-pertemuan
anggota. |
|
Yang
belum dilaksanakan ialah penyebarluasan topik-topik
: |
|
| - |
Faal
Paru, Fisioterapi dan Rehabilitasi |
| - |
Rokok
dan Paru |
| - |
Infeksi
Paru Non-TB |
|
|
|
|
Mengenai
disain penelitian, yang sudah dilaksanakan baru
mengenai topik TB Paru, sedangkan kedelapan topik
yang lain belum tersentuh. Tanggapan problem-problem
masyarakat juga belum secara konkrit dilaksanakan.
Dalam hubungan ini IDPI telah diutus oleh IDI
sebagai wakil dalam Simposium "Merokok dan
Kesehatan" oleh Badan Litbang DepKes, yang
antara lain menyampaikan anjuran-anjuran mengenai
pencegahan-pencegahan merokok di kalangan profesi
kedokteran dan kalangan remaja yang umumnya sesuai
dengan anjuran-anjuran IDPI. Sehubungan dengan ini
pula, salah satu keputusan Kongres IDI tahun lalu
adalah himbauan bagi para dokter untuk tidak merokok
di tempat umum, di tempat praktek, di tempat-tempat
perawatan orang sakit dan sebagainya. |
|
|
| 2. |
Pembakuan
Istilah-istilah Kedokteran |
|
Secara
umum belum dapat dilaksanakan, namun upaya ke arah
ini sudah dimulai. Diminta perhatian kepada semua
Pengurus IDPI agar menggunakan kaidah-kaidah bahasa
Indonesia dengan baik dan benar |
|
| * |
Contoh I |
: |
|
|
Benar |
: |
Konperensi Kerja ke-4
IDPI |
|
|
|
atau
|
|
|
|
Konperensi Kerja IV-IDPI |
|
Salah |
: |
Konperensi Kerja ke-IV
IDPI |
|
|
|
|
| * |
Contoh II |
: |
|
|
Benar |
: |
Simposium Bronkitis
Kronik |
|
Salah |
: |
Simposium Bronkitis
Khronik |
|
|
|
atau
|
|
|
|
Symposium Bronkitis
Kronik |
|
|
Hal-hal
"kecil" seperti ini perlu mendapat
perhatian, karena langsung dipaparkan kepada
masyarakat ilmiah umum, dan pada saat ini hal-hal
seperti itu sudah sangat diperhatikan oleh para
teman sejawat kita di organisasi profesi kedokteran
dan profesi lainnya. |
|
|
|
| D. |
Dewan Redaksi
Majalah Paru |
|
Kita bersyukur
bahwa Majalah Paru masih dapat terbit empat nomor setiap
tahun walaupun tiap penerbitan selalu terlambat. Kesulitan
yang utama adalah sangat sedikitnya tulisan atau makalah
yang masuk dimuat, terutama dari cabang-cabang selain
Jakarta. Pengiriman Majalah Paru setelah Kongres di Medan
ditujukan langsung kepada anggota dan tidak melewati cabang.
Hal ini sesuai dengan keputusan kongres di Medan. Yang belum
terlaksana adalah ijin untuk perubahan susunan pengurus
Majalah Paru. Walaupun pemimpin umum telah diserahkan dari
Dr Erwin P kepada Dr P Embran tapi ijin dari Departemen
Penerangan belum ada, oleh karena itu dalam majalah masih
tertera susunan pengurus yang lama. Keuangan majalah selama
ini masih dapat ditutup dari hasil iklan berkat usaha gigih
dari Dr P Embran sebagai bendahara merangkap pemimpin umum |
|
|
| E. |
Seksi
Kesejahteraan |
|
| 1. |
Satu-satunya Keputusan
Kongres III-IDPI yang menyangkut masalah kesejahteraan anggota
adalah pembentukan Yayasan Paru |
| 2. |
Ususlan-usulan tentang
segi organisatoris Yayasan Paru yang akan dibentuk, telah
disampaikan kepada Pengurus Pusat Ikatan Dokter Paru Indonesia
(PP-IDPI), berupa kertas kerja yang menyangkut bentuk dan susunan
organisasi, serta kaitannya dengan Pengurus Pusat IDPI dan
Cabang-cabangnya. |
| 3. |
Pembentukan yayasan belum
dapat dilaksanakan oleh karena : |
|
| - |
Menunggu
"sponsor" yang bersedia membantu yayasan ini |
| - |
Menunggu perkembangan
yayasan yang bergerak di bidang Penyakit Asma, yang pada saat ini
sedang digarap oleh IDPI Cabang Jakarta. |
|
| 4. |
Kegiatan Seksi
Kesejahteraan yang lain adalah merencanakan pembentukan organisasi
Ibu-Ibu, isteri anggota IDPI. Kertas kerja untuk ini telah dibuat
dan disampaikan kepada Pengurus Pusat IDPI |
|
|
|
| F. |
Seksi Hubungan
Luar Negeri |
|
Dewasa ini ada 4
jalur kemungkinan kerjasama dengan perkumpulan ilmiah
sejenis atau hampir sejenis di luar negeri. |
|
| 1. |
ACCP (American College of
Chest Physicians) |
|
Anggota perorangan
(fellow member atau associate member) dari ACCP di antara sejawat
anggota IDPI, sudah ada 6-8 orang. Di Indonesia juga ditunjuk
seorang "governor" untuk mempermudah prosedur keanggotaan
ACCP, yaitu Dr Hadiarto Mangunnegoro. Perlu dilaporkan bahwa
perkumpulan ilmiah tersebut bersifat multidisipliner. Akhir-akhir
ini dalam kongresnya lebih banyak didominasi oleh para pembicara
dalam bidang kardiovaskuler. Di dalamnya terdiri dari para peminat
yang berhubungan dengan masalah "chest", bedah toraks,
kardiovaskuler, respiratory medicine, physiologists, microbiologists
dll. Kantor Pusat ACCP di Amerika sangat mengharapkan terbentuknya
sebuah chapter di Indonesia. Seberapa jauh keuntungannya perlu
dikaji. |
|
|
| 2. |
SEP (Societas Europea
Pneumologica) |
|
SEP yang baru dibentuk
tahun 80-an, diakui telah berkembang sangat pesat dan dikenal
diseluruh dunia. Perkumpulan ini terutama membicarakan tentang
respiratory medicine, dari hal-hal yang paling mendasar seperti
masalah biologi sel, bioteknologi, fisiologi pernapasan dll yang
terkait. Kongresnya direncanakan sangat cermat dan dilaksanakan
setiap tahun di berbagai kota besar di Eropa secara silih berganti.
Persyaratan keanggotaan sangat sederhana. Kongres tahun 1985 ini
telah diadakan di kota Milan Italia, dari Indonesia telah hadir 2
orang (IDPI). Anggota SEP di Indonesia baru 2 orang. Sekalipun
namanya European Society of Pneumology, peserta kongres dan anggota
perkumpulan ini hampir dari seluruh penjuru dunia. Materi
pembicaraan sangat bermutu. |
|
|
| 3. |
Perkumpulan sejenis ASEAN |
|
Telah beberapa kali
dilakukan penjajakan, tetapi dirasakan masih belum ada kemantapan
dari masing-masing perkumpulan di negara-negara ASEAN tersebut.
Malaysia memang sejak semula belum pernah ikut berbicara oleh karena
dinegara ini tidak ditemukan adanya wadah ahli paru. Filipina
rupanya ada sedikit masalah intern. tetapi yang paling perlu
dipertimbangkan adalah masalah keuangan yang tampaknya agak
terselubung. Kemungkinan diadakannya perkumpulan ASEAN ini masih
terbuka. Syangnya tidak terlihat adanya "sponsor country". |
|
|
| 4. |
APSOP (Asia Pacific
Society of Pneumology). |
|
Suatu sidang preliminer
diadakan di Tokyo 20 - 21 Agustus tahun 1985, yang diprakarsai dan
disponsori oleh para dokter Jepang. Telah diundang dan dihadiri oleh
wakil-wakil berbagai negara Asia Pasifik, antara lain Amerika
Serikat, Australia, Filipina, Muangthai, Indonesia dan tuan rumah
sendiri. Diputuskan nama APSOP yang perlu pengesahan pada kongres
pertama pada tahun 1987 di Tokyo. Perkumpulan ini hampir sama dengan
SEP, yang menampung aspirasi ilmiah di Timur Jauh dan mengkhususkan
dalam permasalahan respiratory medicine. Amerika Serikat tidak ikut
serta, mengingat telah banyaknya keterlibatan kegiatan ilmiah
didalam dan diluar negerinya. Bagi Indonesia perkumpulan ini akan
sangat menguntungkan bilamana ada kemungkinan terjadinya suatu alih
kerekayasaan, seperti kesempatan training atau pendidikan
postgraduate dinegara-negara yang lebih maju seperti Jepang dan
Australia. Dan tidak semata-mata hanya menjadi tuan rumah
terselenggaranya suatu peristiwa ilmiah saja |
|
|
|
|
|
|
|
| VI.5. |
Kongres
nasional V-IDPI |
|
Dalam Kongres Nasional
V-IDPI pada tahun 1990 di Denpasar Dr. Hood Alsagaff terpilih
kembali menjadi Ketua Umum periode 1990 - 1993 |
|
| A. |
Organisasi |
|
| 1. |
Kongres Nasional V-IDPI
menetapkan perubahan nama Ikatan Dokter Paru Indonesia (IDPI)
menjadi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). hal ini sesuai
dengan hasil Muktamar XX - IDI tahun 1988 di Surabaya yang
menetapkan penertiban penggunaan istilah "Ikatan" dan
"Perhimpunan" di kalangan IDI. Dalam keputusan tersebut
ditetapkan bahwa ikatan hanya dipakai oleh organisasi induk, yaitu
IDI, sedangkan untuk perkumpulan dokter spesialis maupun seminat
diwajibkan menggunakan kata perhimpunan |
| 2. |
Telah terbentuk
Perkumpulan Seminat Bronkoskopi dan telah diresmikan oleh PB-IDI
yang diketuai oleh Dr Nirwan Arief, dengan nama PERBRONKI
(Perhimpunan Bronkoskopi Indonesia). |
| 3. |
Kerja sama dengan Yayasan
Asma Indonesia, Yayasan Kanker Indonesia, PPTI dan lain-lain perlu
ditingkatkan. |
| 4. |
Atas permintaan PB-IDI
dan DepKes kepada seluruh PDSp termasuk PDPI diminta untuk menyusun
Standar Pelayanan Medis dari masing-masing Perhimpunan, yaitu untuk
10 penyakit utama. |
| 5. |
Penelitian tentang
merokok dari YKI. Studi prevalensi oleh Pengurus Pusat PDPI
ditugaskan kepada Cabang Surabaya sebagai koordinator. |
|
|
|
| B. |
Dewan Penilai Keahlian |
|
Peranan Dewan Penilai
Keahlian pada saat ini sudah berkurang, karena sudah banyak
fungsinya diambil alih oleh Pemerintah, misalnya untuk mengurus
Surat Izin Dokter (SID) atau sekarang yang disebut Surat Penugasan,
tidak perlu lagi minta rekomendasi dari DPK-PDPI, tetapi dapat
langsung mengurusnya ke DepKes (cq. Biro Kepegawaian). Sedangkan
dari Cabang, dapat mengurusnya melalui Kanwil Depkes masing-masing. |
|
|
| C. |
Dewan Penelitian dan
Ilmiah |
|
Hasil yang sudah dicapai
: |
|
| 1. |
Acara Temu Ilmiah |
|
| 1.1. |
Pertemuan Ilmiah Khusus |
|
Telah diselenggarakan di
Bandung pada tanggal 7 September 1991 |
|
| • |
Untuk anggota PDPI.
Pokok bahasan : "Penelitian dan Pengalaman Dalam
Bronkoskopi". |
| • |
Untuk dokter umum |
|
Pokok bahasan :
"Pulmonologi Dalam Praktek Sehari-hari". |
|
|
|
|
Telah diberikan hadiah
bagi penelitian dan penyajian yang terbaik dengan urutan : |
|
| Pemenang I |
:
|
tidak ada |
| Pemenang II |
: |
Peranan Inflamasi pada
Status Asmatikus, oleh Dr. Adji Wijaya dari Surabaya
Hadiah : Rp 600.000,- |
| Pemenang III |
: |
Pengukuran Tekanan
Oksigen Darah dengan Pemantauan Analisis Gas Darah pada Pemeriksaan
Bronkoskopi Serat Optik tipe B2TR yang dimodifikasi, oleh Dr. Sugeng
Hidayat dari Jakarta.
Hadiah : Rp 400.000,- |
|
|
|
|
| 1.2. |
Seminar / Simposium yang
diselenggarakan bersamaan dengan Konker VI-PDPI, diselenggarakan
pada tanggal 4 Juli 1992 di Ujung Pandang |
|
|
|
| 2. |
Penelitian yang
dikoordinir oleh PP-PDPI |
|
| 2.1. |
Penelitian tentang
perilaku kebiasaan merokok pada guru SLTA |
|
| Koordinator Tim |
: |
PDPI Cabang Surabaya |
| Anggota Tim |
: |
PDPI Cabang Jakarta, PDPI
Cabang Jawa Tengah, PDPI Cabang Medan |
|
|
Dana disponsori oleh
Yayasan Kanker Indonesia Pusat sebesar Rp 5 juta |
| 2.2. |
Pneumobile Project
Indonesia (PPI) |
|
Meskipun hasil dari
proyek ini tidak secara langsung dirasakan oleh kepengurusan PDPI
masa bakti sekarang ini, akan tetapi hasil yang diperoleh merupakan
sumbangan yang besar bagi PDPI.
Tim dari PPI adalah : |
|
| 1. |
UNAIR |
| 2. |
UI |
| 3. |
Field Epidemiology
Training Programe (FETP) DepKes |
| 4. |
Konsultan WHO |
| 5. |
Oregon University |
| 6. |
American Thoracic Society |
| 7. |
Lembaga Penelitian UI |
| 8. |
Satgas Komputer FK-UNAIR |
| 9. |
Boehringer Ingelheim
Pharma Services |
|
|
Hasil yang diperoleh :
Nilai normal faal paru untuk orang Indonesia
Nilai ini disajikan dalam bentuk
| • |
Tabel Nilai Normal |
| • |
Persamaan Prediksi |
|
|
| 3. |
Motivasi untuk
menggairahkan penelitian |
|
| 3.1. |
Pemberian hadiah bagi
peneliti terbaik |
| 3.2. |
Mengusahakan dana
penlitian |
|
Dengan kondisi
perekonomian seperti sekarang ini, agak sulit untuk mendapatkan dana
dari Perusahaan Farmasi. Sebenarnya para peneliti dapat mengusahakan
dana sendiri ke Lembaga / Instansi Pemerintah misalnya Litbang
Depkes, dll. |
| 3.3. |
Kursus metodologi
penelitian dan epidemiologi klinik |
|
Dimana-mana sudah banyak
diselenggarakan kursus-kursus semacam ini, antara lain di
Yogyakarta, Bandung, Surabaya dll. Jadi Pengurus Pusat PDPI tidak
perlu susah-susah menyelenggarakannya |
|
|
|
| 4. |
Penelitian yang belum
terlaksana |
|
| 4.1. |
Lingkungan hidup |
|
Model penelitian ini
sulit untuk dibuat multi-senter, karena kondisi masing-masing tempat
dan lingkungannya sangat berlainan. |
| 4.2. |
Penurunan Produktivitas |
|
Alasan hampir sama dengan
ad. 4.1. disamping judul ini lebih banyak bersifat penelitian
kemasyarakatan sehingga metodologi maupun analisisnya memerlukan
penggarapan yang lain dari yang biasa kita lakukan |
| 4.3. |
Epidemiologi TB |
|
Penelitian deskriptif
semacam ini sulit mendapatkan sponsor |
|
|
|
|
| D. |
Dewan Redaksi Majalah
Paru |
|
Majalah Paru terbit 4x
setahun dalam bulan Januari, April, Juli dan Oktober. Majalah Paru
dapat terbit tepat waktu tergantung dari masuknya makalah dari para
anggota dan pemasangan iklan dari perusahaan farmasi. |
|
|
|
|
| VI.6. |
Kongres
Nasional VI-PDPI |
|
Dalam Kongres Nasional
VI-PDPI, tanggal 2-5 Juli 1993 di Surakarta, terpilih Dr. Hadiarto
Mangunnegoro sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat PDPI periode 1993 -
1996 |
|
Kegiatannya adalah :
| 1. |
Bidang Organisasi |
|
| a. |
Penyesuaian pembentukan
cabang dengan aturan IDI. Pada pelaksanaannya, amanat kongres dalam
pembentukan cabang-cabang tak dapat dilaksanakan, karena dalam ART
dan AD tidak ada persyaratan yang dikaitkan dengan wilayah. Apabila
tetap diinginkan penyesuaian dengan aturan IDI, maka Konkernas telah
dianjurkan perubahan ART tentang pembentukan Cabang. Untuk ini,
Pengurus Pusat telah membahas AD dan ART dalam Rapat Persiapan Konas
di Jakarta pada tanggal 13 - 14 April 1996, yang hasilnya akan
disajikan dalam Kongres Nasional VII yang akan datang. Masalah yang
masih ada adalah hal pembagian wilayah masing-masing cabang yang
perlu diputuskan dalam Sidang Organisasi Kongres Nasional VII PDPI. |
| b. |
Pertemuan Ilmiah Khusus
Bukti Tinggi, telah terlaksana pada tanggal 10 September 1994. Hasil
yang dicapai ialah panduan penatalaksanaan penyakit jamur paru. |
| c. |
Konas VII dan APCDC ke-14 |
|
Konas VI mengamanatkan
agar Konas VII dilaksanakan di Jakarta pada tahun 1996. Pada waktu
yang hampir bersamaan Dr. Hadiarto Mangunnegoro sebagai Ketua Umum
PP-PDPI menerima permintaan ACCP agar melaksanakan APCDC ke-14 di
Indonesia. Dengan berbagai pertimbangan permintaan ini diterima dan
akan dilaksankan di Bali pada tahun 1996. Mengingat pelaksanaan 2
kegiatan dalam tahun yang bersamaan akan menguras dana maupun daya,
maka Pengurus Pusat telah memutuskan agar Konas VII dan APCDC ke-14
itu digabung saja. |
| d. |
Konkernas VII PDPI di
Bandung yang dilaksanakan tanggal 6 s/d 9 Juli 1995 telah
membenarkan penggabungan Konas dan APCDC ini. |
| e. |
Kebutuhan DSP dan
penempatan DSP baru |
|
Penempatan DSP baru
selalu menjadi masalah, yang kebanyakan tidak dapat ditangani oleh
Pengurus Pusat. Pengurus Pusat telah mencoba berdialog dan
menyampaikan masukan-masukan kepada DepKes, akan tetapi hasil akhir
penyelesaian penempatan selalu tergantung kepada faktor-faktor sbb: |
|
| 1. |
Ada / tidaknya kebutuhan
akan DSP yang dinyatakan dengan pernyataan Kanwil |
| 2. |
Ada / tidaknya usaha
Universitas / Fakultas merekrut DSP baru untuk staf pengajar |
| 3. |
Kesediaan instansi yang
akan menerima (RS, BP4 atau instansi lain) |
| 4. |
Keinginan DSP yang
bersangkutan |
| 5. |
Lain-lain |
|
|
|
|
Pada rapat-rapat dengan
CHS tanggal 28 Pebruari 1996, 13 Maret 1996 dan 12 April 1996 telah
dihitung jumlah kebutuhan DSP untuk tahun 1996, sedang proyeksinya
sampai dengan tahun 2008 masih harus dihitung |
| f. |
Pendaftaran MDSp-IDI |
|
Dalam periode Juli 1993
s/d Juni 1996 telah diselesaikan pendaftaran MDSp - IDI sebanyak 58
anggota biasa PDPI |
| g. |
Mars PDPI |
|
Mars PDPI yang pernah
diperkenalkan dalam Konker VI - PDPI di Ujung Pandang tahun 1992,
dalam Kongres nasional VI - PDPI di Surakarta tahun 1993 dengan
suara bulat telah disahkan sebagai lagu resmi PDPI. Mars ini
dilagukan pada setiap acara resmi PDPI (Kongres, PIK, Konker) dan
acara resmi lainnya, oleh semua peserta. |
| h. |
Buku Daftar Nama dan
Alamat |
|
Pengurus Pusat PDPI telah
menerbitkan Buku Daftar Nama dan Alamat Anggota PDPI di seluruh
Indonesia yang paling muktahir. Maklumlah banyak anggota PDPI yang
telah pindah alamat tanpa memberitahukan kepada Pengurus Cabang /
Pusat, sehingga sering terjadi komunikasi terputus, surat tidak
sampai ke alamat tujuan dan pengiriman majalah / jurnal dari pusat
sering dikembalikan. |
|
|
|
| 2. |
Bidang Pendidikan |
|
| a. |
Pendidikan Sp I dan NBE |
|
Sehubungan pendidikan DSP
(Sp I), masalah utama adalah belum terlaksananya ujian bersama
(NBE). Pertukaran soal secara tertulis antara pusat pendidikan di
Jakarta dan Surabaya belum seluruhnya terlaksana pada tahun itu. KPS
Pulmonologi FKUI telah mengirimkan beberapa soal yang diujikan pada
peserta PPDS. Sebagai jawaban, hendaknya digunakan rujukan yang
sama, baik terbitan luar negeri, maupun buku ajar dalam negeri yang
diakui |
| b. |
Pembentukan Pusat-Pusat
Pendidikan Pulmonologi baru |
|
Pengurus Pusat telah
merekomendasikan pembentukan pusat-pusat pendidikan baru di UNS dan
Unibraw, disamping Unand. Kelanjutan dan keberhasilan terbentuknya
pusat-pusat baru ini tergantung dari lancarnya prosedur dan
kegigihan masing-masing pelaksana. Di Malang, PPDS Pulmonologi di FK
Unibraw telah dilaksanakan dengan berbapak angkat kepada FK Unair.
Di FK UNS, persiapan pelaksanaan PPDS Pulmonologi sudah berjalan,
namun belum ada peserta baru yang mulai mengikuti pendidikan.
Diusulkan agar pelaksanaan PPDS Pulmonologi di FK UNS dimulai dengan
mengirimkan calon-calon dari UNS ke FKUI. Di Universitas Andalas,
PPDS Pulmonologi telah dilaksanakan dengan berbapak angkat ke FK-UI
sejak tahun 1990. Empat orang telah menjalani pendidikan secara ini,
2 orang diantarannya telah lulus. Saat itu FK Unand mengusulkan
permohonan untuk melaksanakan pendidikan secara penuh, dan itu telah
diusahakan oleh staf Bagian Pulmonologi FK-UI, agar Dekan FKUI
merekomendasikan hal itu kepada CHS. |
| c. |
Pendidikan SP2 (DSP
Konsultan) |
|
Katalog DSP II telah
disahkan oleh Konas VI Solo, terdiri dari : |
|
| - |
katalog SP2 Infeksi |
| - |
Katalog SP2 Onkologi Paru
dan Mediastinum |
| - |
Katalog SP2 Asma dan
Penyakit Paru Obstruktif Menahun |
| - |
Katalog SP2 Penyakit Paru
Kerja |
| - |
Katalog SP2 Darurat Paru |
| - |
Katalog SP2 Imunologi
Paru |
|
|
|
|
Lulusan pendidikan SP2
akan disebut Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan Konsultan. Saat
ini telah dilaksanakan pemberian Calon Dr. Sp. Paru Konsultan bagi
anggota staf pengajar di : |
|
| - |
FKUI |
: |
14 orang |
| - |
FK Unair |
: |
18 orang |
| - |
FK Unibraw |
: |
2 orang |
| - |
FK UNS |
: |
4 orang |
| - |
FK Unand |
: |
4 orang |
| - |
FK USU |
: |
7 orang |
|
|
|
|
|
|
Di masa yang akan datang,
kesempatan meraih gelar DSPK diharapkan terbuka bagi anggota PDPI
nonstaf pengajar FK, melalui kurikulum sesuai katalog. Dalam
hubungan sebutan Dokter Spesialis Konsultan, PB-IDI sudah beberapa
kali menyelenggarakan pertemuan untuk menyeragamkan sebutan Dokter
Spesialis dan Dr. Sp. Konsultan. Belum ada kesepakatan / keputusan
yang pasti, tetapi usul yang sudah sering dikemukakan sebagai contoh
: Anwar Jusuf, Dr., Sp. paru (K) atau Anwar Jusuf, Dr.,Sp.P(K).
Salah satu notulen rapat PB-IDI tenatng Dr. Sp. Konsultan, Jum'at 12
April 1996 menyebutkan bahwa gelar profesional Sp. Konsultan tidak
lagi diberikan oleh perhimpunan spesialis yang subspesialisasinya
telah berdiri sendiri sebagai spesialis sendiri. |
| d. |
KIPDI II, Kurnas dan
Kurfak |
|
KIPDI II telah
dikeluarkan oleh Depdikbud, yang merupakan Kurnas, yakni menjadi 80%
kurikulum di FK masing-masing. Sisanya, yakni 20% ditentukan oleh
Fakultas masing-masing melalui rapat-rapat/prosedur yang berlaku
setempat.
Pengisian bagian ini merupakan kekhusussan bagi masing-masing
fakultas, karena itu anggota PDPI yang menjadi staf pengajar S2 di
masing-masing FK diharapkan agar mencoba menempatkan ilmu penyakit
paru/pernapasan menempati urutan tinggi dalam SKRT. |
|
|
|
| 3. |
Bidang Penelitian ilmiah |
|
| a. |
Kegiatan Ilmiah
Cabang |
|
Selama tahun
1993-1995 Pengurus Pusat tidak begitu mengetahui kegiatan
ilmiah dari Cabang-cabang |
| b. |
Dari Pertemuan
Ilmiah Khusus di Bukit Tinggi telah dihasilkan Pedoman
Penatalaksanaan Penyakit Jamur Paru, yang masih perlu
disempurnakan |
| c. |
Kegiatan
Penelitian |
|
Sampai saat ini
Pengurus Pusat belum berhasil mengkoordinir kegiatan
penelitian. Beberapa anggota Pengurus Pusat dan Cabang
(antara lain Cabang Jakarta, Surabaya) berpartisipasi dalam
penelitian uji coba penanggulangan TB paru terpadu yang
dilaksanakan oleh Komite Nasional Penanggulangan TB paru.
Kegiatan penelitian melalui biaya Yayasan Asma Indonesia
atau PPTI belum terlaksana karena kedua yayasan tersebut
tidak mempunyai kebijakan mensponsori penelitian. Kerjasama
dengan kedua yayasan tersebut hanya bersifat menunjang
kegiatan sosial mereka dan merupakan kegiatan-kegiatan
pengabdian masyarakat PDPI. |
| d. |
Konkernas
VII-PDPI di Bandung telah menetapkan untuk memberikan
Penghargaan Rasmin Rasjid bagi laporan penelitian terbaik
yang dimuat di Jurnal Respirologi Indonesia setiap tahunnya.
Dana untuk penghargaan ini dikembangkan dari sumbangan
keluarga almarhum Prof. Dr. Rasmin Rasjid sebesar U$ 5.000
yang telah disisihkan oleh almarhum semasa masih aktif.
Untuk ini telah dibentuk Panitia Penilaian Penghargaan
Rasmin Rasjid, dan penghargaan akan diberikan kepada
pemenang dalam bulan September 1997 dalam rangka HUT
PDPI. |
|
|
|
| 4. |
Bidang Redaksi Majalah |
|
Dewan Redaksi Majalah
Paru telah melaksanakan usaha-usaha perbaikan sampul majalah,
pembenahan organisasi dan pemerataan distribusi. Masukan makalah
dari luar Jakarta masih amat langka, karena itu pengisian tetap
diharapkan terutama dari luar Jakarta. Sesuai dengan amanat Konas VI
maka mulai Januari 1996, nama Majalah Paru telah diganti
menjadi JURNAL RESPIROLOGI INDONESIA. |
|
|
| 5. |
Bidang Profesi
Kesejahteraan |
|
Dewan Pembinaan Profesi
dan Kesejahteraan melaksanakan Amanat Konas VI dalam menjalin
hubungan dengan Dirjen Yanmed, binkesmas, P2MPLP DepKes RI, dan
terutama berperan dalam pembentukan Komite Naional Penanggulangan TB
Paru Terpadu. PDPI telah berpartisipasi dalam lokakarya P2TB dan
beberapa kali ikut serta dalam rapat / pertemuan-pertemuan tahunan
BP4 se-Indonesia. Hubungan dengan Departemen lain belum terlaksana,
sedang hubungan dengan LSM yang terutama berjalan ialah dengan
Yayasan Asma Indonesia. Senam Asma Indonesia yang telah dibakukan
oleh Yayasan Asma Indonesia merupakan salah satu hasil yang
masukkannya amat banyak dari anggota-anggota PDPI di Yayasan Asma
Indonesia. Anggota-anggota PDPI aktif dalam kegiatan-kegiatan YKI
dan LM3 terutama dalam kegiatan penanggulangan masalah pokok, sedang
dengan PPTI terjalin hubungan yang cukup erat dalam pelaksanaan
pelayanan masyarakat di Jakarta Respiratory Center (JRC) PPTI-Pusat. |
|
|
| 6. |
Hubungan Kerjasama dengan
Pemerintah, Profesi Lain dan LSM |
|
| a. |
Departemen
Kesehatan RI |
|
Dalam berbagai
kesempatan, Pengurus Pusat selalu berusaha memberikan
masukan-masukan sesuai dengan amanat kongres, seperti
terlihat pada kegiatan-kegiatan Bidang Profesi dan
Kesejahteraan. Beberapa permasalahan yang pernah dibahas
bersama DepKes ialah : |
|
| - |
Standar pelayanan
kesehatan paru dan standar peralatan medis RS tipe C, sampai saat
ini belum ada tindak lanjutnya. |
| - |
Perkembangan RSTP menjadi
RS Khusus Paru, inipun belum ada realisasi lebih lanjut. |
| - |
Pengembangan BP4,
terutama menyangkut penempatan DSP |
| - |
Penanggulangan TB paru :
pembentukan Komite Nasional Penanggulangan TB terpadu dan uji coba
penanggulangan TB terpadu |
|
|
Hal yang perlu
mendapat perhatian ialah akan dibentuknya Majelis Disiplin
Tenaga Kesehatan, yang menyangkut penilaian / pengurusan
"kesalahan-kesalahan" yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan.
Dalam hubungan ini, PDPI perlu membuat standard profesi yang
disebarluaskan kepada semua anggota, agar semua anggota PDPI
dalam bekerja sesuai dengan batas-batas profesionalisme. |
| b. |
Kerjasama dengan
Depdikbub dan Depnaker |
|
Amanat Kongres
dalam bidang ini belum dilaksanakan, kecuali upaya
pembentukan pusat-pusat pendidikan baru. |
| c. |
Ikatan Dokter
Indonesia dan perhimpunan profesi lain |
|
| - |
Bersama IDI dan Depkes,
telah disusun standard pelayanan medis II dan standard peralatan RSU
tipe C dan pola perhitungan kebutuhan DSP |
| - |
Rapat-rapat dengan
MDSp-IDI tenatng sebutan DSP dan Dr. Sp. Konsultan.
Disepakati bahwa sebutan Dr. Sp. Konsultan hanya akan digunakan di
lingkungan pendidikan. Tidak dibenarkan suatu profesi mengeluarkan
sebutan Konsultan bagi bidang kedokteran yang sudah ada pendidikan
profesinya. |
|
| d. |
Kerjasama dengan
LSM |
|
Peran yang dapat
dilakukan tergantung pada program LSM sendiri. YAI dan PPTI
tak mempunyai program penelitian, hanya kegiatan-kegiatan
sosial, namun Pengurus Pusat-PDPI telah memanfaatkan
kegiatan tersebut sebagai kegiatan pengabdian masyarakat. |
|
|
|
| 7. |
Bidang Hubungan Luar
Negeri |
|
| 7.1. |
Hubungan dengan APSR |
|
Dalam Konker VII digelar
acara "Recent Advances in Respirology Medicine I dan II"
dengan mendatangkan pembicara-pembicara APSR. |
| 7.2. |
Hubungan dengan ACCP
diwujudkan dalam pelaksanaan APCDC ke-14 yang berlangsung saat itu. |
|
Beberapa kesulitan dalam
menggabungkan APCDC dan Konas VII - PDPI berbeda dengan APSR, karena
: |
|
| a. |
APCDC melibatkan 3
perhimpunan profesi di Indonesia |
| b. |
APCDC merupakan kegiatan
yang dipayungi oleh ACCP |
| c. |
Memerlukan waktu untuk
melapangkan jalan |
|
|
|
|
|
|
|
|
| VI.7. |
Kongres
Nasional VII-PDPI |
|
Dalam Kongres Nasional
VII-PDPI, tanggal 26-28 Juni 1996, di Denpasar terpilih Dr Yudanarso
Dawud sebagai Ketua Umum PDPI periode 1996-1999. Kongres ini telah
mensahkan AD / ART-PDPI yang baru, diantaranya berbunyi, 3 orang
anggota biasa PDPI di dalam 1 propinsi atau gabungan 2 propinsi
dapat membentuk cabang PDPI. |
|
Program Kerja adalah sbb: |
|
| A. |
Dewan Penilai Keahlian |
|
| 1. |
Membuat dan
menyempurnakan Konsep SP2 |
|
| a. |
Mengevaluasi Katalog dan
Silabus yang telah ada untuk disesuaikan dengan kemajuan ilmu dan
teknologi kedokteran (IPTEKDOK) |
| b. |
Menetapkan syarat
penerimaan, jenis SP2, lama pendidikan, kriteria penilaian dll,
disesuaikan dengan katalog yang ada. |
| c. |
Melakukan evaluasi
berkala kegiatan pendidikan |
|
| 2. |
Penyelenggaraan Ujian
Nasional (National Board Examination) untuk Pendidikan SP1 |
|
| a. |
Membentuk Panitia ad hoc
berasal dari Pusat Pendidikan yang ada |
| b. |
Menetapkan buku rujukan
(referensi) |
| c. |
Merangkum Modul (Juklak,
Buku Ajar) yang berasal dari Modul yang telah ada |
| d. |
Menetapkan Kriteria Tim
Penguji Nasional, Tatalaksana Ujian serta Kriteria Penilaian |
| e. |
Bekerjasama dengan Pusat
Pendidikan mengatur pelaksanaan program adaptasi Dokter lulusan Luar
Negeri |
|
|
|
|
|
Pengurus Pusat PDPI telah
menerbitkan Surat Keputusan No. 1598/SK-XXII/PDPI-Pusat/'98 tentang
Pemberlakuan Tatalaksana Ujian Nasional Spesialis I Paru, tanggal 28 |
|
|
| B. |
Dewan Ilmiah dan
Penelitian |
|
| 1. |
Menyusun Prioritas
Penelitian yaitu Program berdasar masalah yang mendesak dihadapi
bangsa Indonesia, dengan cara pendekatan melalui pembuatan pohon
penelitian. Perkiraan prioritas masalah adalah sbb: |
|
| a. |
Tuberkulosis |
| b. |
Asma dan Penyakit Paru
Obstruktif lainnya |
| c. |
Keganasan |
|
| 2. |
Mengkoordinir kegiatan
ilmiah dalam Pertemuan Ilmiah Khusus, KONKER dan KONAS |
| 3. |
Merangsang dan membantu
kegiatan ilmiah yang diselenggarakan oleh Cabang atau gabungan
beberapa Cabang, yang diharapkan agar tiap Cabang dapat melakukan
Pertemuan Ilmiah sedikitnya setahun sekali. |
|
|
|
| C. |
Dewan Organisasi |
|
| 1. |
Menyusun Organisasi
Cabang-cabang sesuai AD / ART yang baru, meliputi penetapan wilayah
cakupan. Sesuai dengan hasil keputusan Kongres VII-PDPI, diputuskan
penamaan Cabang sebagai berikut : |
|
| 1. |
PDPI Cabang DI Aceh |
| 2. |
PDPI Cabang Sumatera
Utara |
| 3. |
PDPI Cabang Sumatera
Barat dan Riau |
| 4. |
PDPI Cabang Jambi dan
Sumatera Selatan |
| 5. |
PDPI Cabang Lampung dan
Bengkulu |
| 6. |
PDPI Cabang DKI Jakarta |
| 7. |
PDPI Cabang Jawa Barat |
| 8. |
PDPI Cabang Jawa Tengah |
| 9. |
PDPI Cabang DI Yogyakarta |
| 10. |
PDPI Cabang Jawa Timur |
| 11. |
PDPI Cabang Malang |
| 12. |
PDPI Cabang Bali dan Nusa
Tenggara |
| 13. |
PDPI Cabang Sulawesi
Selatan dan Utara |
|
|
PDPI Cabang Lampung dan
Bengkulu, serta PDPI Cabang Bali dan Nusa Tenggara, baru dalam
bulan-bulan menjelang penyelenggaraan Kongres Nasional VIII-PDPI
dapat terbentuk dan diresmikan oleh Pengurus Pusat PDPI. Dengan
demikian dari 13 Cabang PDPI yang dibentuk dalam rencana kerja
Pengurus Pusat PDPI periode 1996-1999, hanya PDPI Cabang DI Aceh
yang belum terbentuk, meskipun mempunyai 3 orang anggota biasa,
mereka dengan berbagai alasan mengatakan lebih senang bergabung
dengan PDPI Cabang Sumatera Utara. Sedangkan untuk Cabang Malang,
perlu diberikan batas sampai dimana wilayah organisasinya supaya
tidak rancu dengan wilayah Cabang Jawa Timur. |
| 2. |
Mengingatkan kembali
penyeragaman berbagai atribut organisasi (lambang, cap, amplop, dll) |
| 3. |
Melakukan pembinaan
organisasi bagi seluruh Cabang |
|
|
|
| D. |
Dewan Pembinaan Profesi
dan Kesejahteraan |
|
| 1. |
Mengusahakan peningkatan
keterampilan dan kemampuan anggota dengan memperluas bidang kajian
seperti olah raga, penerbangan, kelautan. |
| 2. |
Menyelenggarakan kegiatan
keakraban / kekeluargaan dalam PIK, KONKER dan KONAS, pembuatan baju
seragam, penerbitan buletin berisi berita keluarga, SK/himbauan
serta kalender kegiatan PDPI |
| 3. |
Meningkatkan partisipasi
aktif dalam berbagai organisasi / yayasan di dalam dan di luar
negeri seperti; YAI, PPTI, ACCP, APSR |
| 4. |
Membantu dan mengusulkan
penempatan Dokter Spesialis Paru yang baru |
| 5. |
Mengingatkan kerja sama
lintas sektoral dengan Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan, IDI dan sektor terkait lainnya |
|
|
|
| E. |
Dewan Redaksi Majalah |
|
| 1. |
Meningkatkan mutu sajian
Jurnal Respirologi Indonesia dengan cara : |
|
| a. |
Menghimbau para anggota
untuk aktif mengirimkan artikel |
| b. |
Meningkatkan insentif
bagi para penulis |
| c. |
Memberikan penghargaan
bagi penulis terbaik |
| d. |
Mengupayakan akreditasi
Dirjen DIKTI |
|
| 2. |
Menerbitkan Buletin
Informasi Keluarga PDPI, yang bahannya disiapkan oleh Dewan
Pembinaan Profesi dan Kesejahteraan, sedikitnya 2x setahun |
| 3. |
Menghimpun dana melalui
penerbitan Majalah dan Buletin, yang pemanfaatan manajemennya
dilakukan secara terpusat (sentralisasi keuangan) |
|
|
|
|
|
Dalam perkembangan
terakhir Panitia Penempatan Dokter Spesialis Departemen Kesehatan,
telah mengikutsertakan perhimpunan profesi dalam penempatan dokter
spesialis di Indonesia termasuk PDPI. Dengan demikian setiap
penempatan dokter spesialis paru sekarang ini, PDPI diajak bicara
dan ikut menentukan penempatan tersebut.
Disamping DepKes telah mempunyai program penempatan dokter spesialis
empat dasar dan tiga penunjang, PDPI telah mengusulkan agar
penempatan dokter spesialis paru oleh DepKes juga dimasukkan dalam
program seperti diatas dan hal ini telah disetujui. |
|
|
|
Halaman Sebelumnya (5/7) - Halaman Berikutnya (7/7) 
| |  | |  |
|  | |  |